Tasikmalaya, NU Online; Sebanyak 1500 santri Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning Salopa ikut memeriahkan Konferensi Cabang Nahdlatul XVI. Mereka menggelar konvoi sejauh 30 km ke lokasi konferensi di Pondok Pesantren Cipasung Singaparna, Kamis (29/12).

Gemuruh nyanyian mars Baitul Hikmah dan lagu-lagu khas NU menghiasi rombongan santri berseragam putih di atas mobil bak. Tercatat 45 mobil santri putra dan putri ditambah sembilan mobil ranting NU di seluruh Salopa.

Pengasuh Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning Salopa KH Acep Salahudin mengatakan, konvoi ini dilandasi oleh rasa kepemilikian terhadap NU. NU merupakan pesantren besar dan pesantren merupakan NU kecil.

Ketua MWCNU Salopa ini melanjutkan, tidak hanya santri yang dikerahkan, tapi ranting-ranting NU pun ikut memeriahkan. Setiap ranting NU menggunakan satu mobil. Rombongan MWCNU Salopa juga berpartisipasi.

“Ini semua dalam rangka rasa memiliki, NU milik kita, milik pesantren, milik seluruh umat Muslim,” jelas putra Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Tasikmalaya periode 2010 KH Saepuddin Zuhri rahimahullah.

Salah satu santri Haurkuning yang mengikuti konvoi, Asy’ari, mengatakan dirinya merasa bangga dengan mengikuti kegiatan ini. “Ketika ada momen seperti ini saya teringat wasiat KH Saepuddin Zuhri. Yang pertama wajib mertahankeun aqidah syariah dan akhlaq Ahlussunnah wal Jamaah. Yang kelima kudu jadi NU.” (Husni Mubarok/Alhafiz K)

--- --- ---
Sumber Release:
http://www.nu.or.id


Tasikmalaya, NU Online; Menghafal syair berbahasa Arab bagi para santri tidaklah asing. Namun, bersaing membawakan syair itu dalam sebuah ajang lomba tak banyak ditemui. Inilah yang tampak di Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning, Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (21/10).

Di pesantren yang terletak di Kampung Haurkuning, Kecamatan Salopa ini para santri membawakan syair-syair dari Alfiyah Ibnu Malik dan Ta’limul Muta‘allim dengan cara memadukan syair dan wazan yang terdapat dalam ‘arud, ilmu syair bahasa Arab. Langgamnya disesuaikan dengan zaman sekarang, bahkan bisa bernuansa kebarat-baratan, ketimur-timuran, dan juga nuansa khas Nusantara.

Dengan tetap menaati kaidah ilmu arud, para santri dipersilakan membawakan syair dengan berbagai genre musik, bahkan iringan para penari dari kalangan para santri. Dewan Santri Baitul Hikmah Haurkuning Fahmi Dziaulhaq menuturkan bahwa lomba ini adalah untuk mendorong kreativitas santri dalam berimajinasi.

Perlombaan memiliih syair sebagai materi lomba karena nadhaman lebih disenangi santri daripada narasi teks biasa. Kitab Alfiyyah Ibnu Malik dan Ta'lim Muta'allim dipilih karena kebanyakan syair di kedua kitab tersebut mengandung bahar rajaz,towil, basith, dan kamil.

“Selain itu dalam kitab-kitab ini banyak petuah yang harus kita petik apalagi dalam Ta'lim. Syair dari kedua kitab ini adalah yang digeluti para santri dan dihafalnya,” pungkasnya.

Para santri ini berlomba untuk memperebutkan piala Muharaman yang digelar selama hampir dua minggu. Perlombaan diikuti para santri yang terbagi berdasarkan asal daerah dengan tiga kategori lomba, yaitu pendidikan, kesenian dan olahraga dan ini adalah ajang lomba paling bergengsi di Haurkuning. (Husni Mubarok/Mahbib)

---
Sumber Release:
http://www.nu.or.id/

10/23/2016

Tasikmalaya, NU Online: Santri Baitul Hikmah Haurkuning melalukan sujud syukur dengan adanya Hari Santri Nasional. Mereka melakukan itu seusai melaksanakan pembacaan Shalawat Nariyah yang dilaksanakan di Masjid Jami Baitul Hikmah Haurkuning Salopa Tasikmalaya, Jawa Barat (21/10).

Sujud syukur ini dilandasi atas rasa bangga dan syukur atas perhatian pemerintah terhadap santri yang dulu kurang diakui.

Imam masjid Baitul Hikmah Ajengan Yasa mengatakan, dulu ketika dirinya mesantren, menjadi santri itu sangat susah dan sering dicurigai, khususnya ketika masa Darul Islam (DI) Tentara Islam Indonesia (TII) yang dipimpin oleh Kartosuwiryo.

Bahkan mengajipun dulu tak tenang, tapi ketika Hari Santri ini ada, santri jadi diakui dan mari kita sujud syukur atas nikmat ini,” ajaknya.

Santri Haurkuning Ridwan mengatakan dengan adanya Hari Santri ia menjadi bangga. Dan momentum sujud syukur itu sangat luar biasa.

“Hidup santri,” pekiknya. (Husni Mubarok/Abdullah Alawi)

--- --- ---
Sumber Release:
http://www.nu.or.id/post/read/72313/baitul-hikmah-haurkuning-sujud-syukur-hari-santri


Tasikmalaya, NU Online; Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menilai enam wasiat yang disampaikan KH Saefudin Zuhri, pendiri Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning, Salopa, Tasikmalaya, Jawa Barat, patut mendapat perhatian. Menurutnya, pesan kiai yang wafat pada 30 Agustus 2013 itu harus diamalkan.<>

Keenam wasiat mantan Rais Syuriah PCNU Tasikmalaya tersebut antara lain, pertama, wajib mertahankeun (mempertahankan) aqidah, syariah, akhlaq Ahlussunnah wal Jamaah; kedua, wajib shalat di masjid awal waktu,berjamaah; ketiga, Ulah eureun ngaji (Jangan berhenti belajar).

Keempat, anak incu wajib dipasantrenkeun (anak cucu wajib dipesantrenkan); kelima, kudu jaradi NU (Harus menjadi NU); keenam, hate ulah nyantel kana dunya ulah sing nyantel ka akherat (Hati jangan  berkait pada dunia harus berkait pada akhirat.

Menurut Kang Said, sapaan akrabnya, wasiat pertama merupakan bukti komitmen untuk mempertahankan Ahlussunnah wal Jamaah, dan kita diminta tetap teguh berpegang kepada aqidah Aswaja.

“Dan di Wasiat ketiga ‘Ulah eureun ngaji’ di sini suatu perintah kepada kita, jangan berhenti jadi santri, dan teruskan perjuangan ulama, teruskan perjuangan guru kita KH Saefudin Zuhri ini,” jelasnya katanya ketika mengisi Pengajian di Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haur Kuning, Senin (26/10). (Husni Mubarok/Mahbib)

---
Sumber Release:
http://www.nu.or.id/


Tasikmalaya, NU Online; Segenap Dewan Pengasuh dan Dewan Santri Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning, Tasikmalaya menghadiri Rapat Umum Tabligh Akbar pada 21 Oktober 2015/8 Muharram 1437 H nanti. Kegiatan itu akan dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Pada rapat yang berlangsung di Aula Pesantren Baitul Hikmah (6/10) tersebut, pengasuh pesantren yang juga penanggung jawab kegiatan, KH Busyrol Kariem, mengimbau kepada seluruh panitia agar menyiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari dan bekerja semaksimal mungkin guna kelancaran kegiatan tersebut.

Sebab, menurut dia, umat Islam Tasikmalaya akan membludak menghadiri Tabligh Akbar tersebut. Selain para santri, warga masyarakat juga berbondong-bondong hadir.

Ia menambahkan, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Tasikmalaya dan Majelis Wakil Cabang (MWC) se-Kabupaten Tasikmalaya akan hadir. Tak hanya itu, PCNU se-Priangan Timur di antaranya Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, dan Kota Banjar, juga siap hadir.

Dewan Kiai Baitul Hikmah KH Acep Salahudin menambahkan, kegiatan itu akan dihadiri Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, lembaga-lembaga NU se-Kabupaten Tasikmalaya serta para alim ulama.

Dari kalangan pemerintahan, kata dia, panita mengundang Kementerian Agama Tasikmalaya, Kapolres Kabupaten Tasikmalaya, serta camat se-Kabupaten Tasikmalaya.

Menurut Kiai Acep, Baitul Hikmah jauh-jauh hari telah melakukan persiapan untuk mengatasi berbagai kekurangan agar hambatan bisa segera teratasi. (Ridwan Fauzi/Abdullah Alawi)

---

Sumber Release:
http://www.nu.or.id

11/01/2014
Komplek Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning Tasikmalaya

Negara jin. Begitu orang-orang bilang. Tak seorang pun berani tinggal di sana. Tapi tidak dengan Saepudin Zuhri. Ia malah tinggal di Puncak Haur, Desa Mandalaguna, Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya.

Lebih dari lima puluh tahun silam, 18 Agustus 1964, ia mendirikan pesantren di atas bukit. Sulitnya akses jalan tak membuatnya mundur. Tekadnya bulat. Ia yakin dengan petunjuk guru dan hasil istikharahnya. Meskipun tempatnya tidak memberikan kemudahan, ia yakin akan satu hal Allah SWT akan menolongnya. Ia serahkan segalanya kepada Allah SWT. Alhasil, kerja kerasnya berbuah manis. KH. Saepudin Zuhri (rahimahullah) telah membuktikan keyakinannya.

Kini, Puncak Haur bukan lagi negara jin, tapi pusat penyebaran agama Islam. Namanya diubah menjadi Haurkuning. Lengkapnya, Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning. “Penambahan kata Baitul Hikmah setelah Bapa ((KH. Saepudin Zuhri) pulang dari Mekah tahun 1978,” sebut KH. Busyrol Karim Zuhri, putra pertama almarhum yang kini diangkat menjadi pimpinan ponpes.

Ia menyebutkan, saat ini tercatat ada 1.600 orang yang menimba ilmu di tempatnya. Mereka datang dari berbagai pelosok tanah air. Padahal, waktu dulu dirintis, hanya ada lima orang santri. “Kalau Bapa hanya mengandalkan akalnya, pesantren ini tidak akan sebesar sekarang. Jawabannya hanya satu, yaitu keyakinan kepada Allah SWT. Kalau segala sesuatu diserahkan kepada Allah, segalanya akan menjadi kecil. Segalanya gantungkan kepada Allah. Haurkuning tidak mengenal buldoser, tapi bisa sebesar sekarang. Modalnya hanya satu; dekatkan diri kepada Allah SWT,” tutur Kiai Busyrol.

Menurutnya, di periode awal membuka pesantren, banyak santri yang ujug-ujug linglung. Mereka sampai tidak tahu jalan pulang. Tak sedikit santri yang tiba-tiba sakit. Konon, mereka diganggu jin. Malah, gangguannya ada yang terbilang parah.

Cecep Ahmad Muqoddas, santri angkatan 1986 s.d. 1991, mengaku pernah diganggu jin. “Waktu saya mesantren di Haurkuning pernah marah kepada teman. Saya kira dia yang menyembunyikan sarung saya. Eh, ternyata ada di pohon manggu. Sepertinya itu oleh jin, karena tidak mungkin teman saya naik pohon itu,” ujarnya.

Selain itu, sambungnya, saat ada orang yang hendak memindahkan batu sebesar rumah, ia malah sakit. Konon batu itu tegalnya jin. Tapi, pengalaman-pengalaman seperti itu bagi Cecep hanya bumbu. Selama menimba ilmu di pesantren Haurkuning, ia mengaku banyak pelajaran yang dipetik. “Saya sudah mesantren di beberapa tempat, tapi di Haurkuning yang paling bagus. Terasa mesantrennya. Pembinaan mentalna bagus,” tandasnya.

Penilaian serupa diucapkan Asep Ismail, santri angkatan 1994. Menurutnya, pengajaran di pesantren Haurkuning sangat mengena. Cara membinanya bagus. Tidak pandang bulu. Ia bangga bisa belajar ilmu alat, kitab kuning, dan yang lainnya.

Selain pengajaran tradisional, kini Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning telah membuka kelas tsanawiyah dan aliyah. “Pesantren ini dikembangkan untuk mencetak kader-kader muslim. Bukan hanya pintar, tapi harus berakhlak karimah, tekun ibadah, dan mendalam ilmunya,” ujar Kiai Busyrol. initasik.com|ashani

Alamat: Kp. Haurkuning RT 03 RW 01 Desa Mandalaguna Kec. SalopaKab. Tasikmalaya Prov. Jawa Barat
Telepon. 08211560 7722
--- ---
Sumber:
Initasik: https://initasik.com/pondok-pesantren-baitul-hikmah-haurkuning/

8/12/2014
KH. Busyrol Karim Zuhri
Kabupaten Tasik | Ilmu modern mana yang bisa menerima argumentasi pendirian pondok pesantren di atas bukit yang tidak memiliki akses jalan memadai? Jika memakai ilmu analisa pasar, misalnya, pasti tidak akan masuk. Tapi, hal itu tidak berlaku bagi Kiai Saepudin Zuhri saat mendirikan Pesantren Haurkuning (Sekarang namanya ditambah Baitul Hikmah) di Kp. Haurkuning, Desa Mandalaguna, Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya, 50 tahun silam.

“Bapa (KH. Saepudin Zuhri Rahimullah, red) memutuskan mendirikan pesantren di sini atas dasar petunjuk guru-gurunya. Juga hasil istikharah beliau. Meskipun tempatnya tidak memberikan kemudahan, Bapa yakin akan satu hal. Allah SWT akan menolongnya. Beliau menyerahkan segalanya kepada Allah SWT,” papar putra pertama almarhum yang kini diangkat menjadi pimpinan ponpes, KH. Busyrol Karim Zuhri, kepada initasik.comsaat diwawancara di kediamannya, Minggu (10/8).

Menurutnya, saat dulu ayahandanya merintis pesantren, tidak sedikit masyarakat yang menertawakan. Bagaimana tidak? Jalan yang ada hanya setapak. Kalau hujan, licin jadi ancaman. Para santri mesti berjuang keras mendaki bukit, sambil berpegangan pada akar. Listrik? Itupun belum ada.

“Kalau Bapa hanya mengandalkan akalnya, pesantren ini tidak akan sebesar sekarang. Jawabannya hanya satu, yaitu keyakinan kepada Allah SWT. Kalau segala sesuatu diserahkan kepada Allah, segalanya akan menjadi kecil. Segalanya gantungkan kepada Allah. Haur Kuning tidak mengenal buldoser, tapi bisa sebesar sekarang. Modalnya hanya satu; dekatkan diri kepada Allah SWT,” tandas Kiai Busyrol.

Ia menyebutkan, saat pertama didirikan, jumlah santri hanya lima orang. Tapi sekarang, tercatat ada 1.600 orang yang menimba ilmu di Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning. “Mohon doanya agar kami bisa menjaga amanah pesantren ini,” imbunya. initasik.com|ashani/usep

--
Sumber Release:
Initasik: https://initasik.com/haurkuning-besar-karena-satu-alasan/


ADMINISTRASI PESANTREN BAITULHIKMAH
  • Pendaftaran          Rp.  50.000
  • Wakafiayh            Rp. 300.000
  • KTP Santri            Rp.   20.000
  • Sahriyah+makan  Rp. 200.000
                     JUMLAH Rp.  570.000
catatan : bisa diangsur

ADMINISTRASI MADRASAH TSANAWIYAH BAITULHIKMAH
  • Pendaftaran                        Rp.   75.000
  • Seragam Olahraga              Rp.   70.000
  • Atribut PSH dan Pramuka     Rp.   50.000
  • Pengembangan Pendidikan  Rp.  200.000
  • Masa Orientasi Siswa           Rp.    50.000
  • Iuran Komputer bulan Juli    Rp.    10.000
  • Lembar Kerja Siswa            Rp.   125.000
  • Photo                                 Rp.     20.000
                               JUMLAH   Rp. 600.000
Bagi siswa yang mutasi         Rp. 100.000

ADMINISTRASI MADRASAH ALIYAH BAITULHIKMAH
Pendaftaran Rp.    75.000
SPP bulan Juli+komputer                 Rp.    75.000
Seragam Olahraga                          Rp.    75.000
Atribut PSH,Pramuka, kartu OSIS     Rp.    75.000
Pengembangan Pendidikan               Rp.  545.000
MOS dan tes murid                          Rp.    75.000
LKS umum dan PAI Rp.  120.000
Koperasi Sekolah Rp.    50.000
        JUMLAH Rp. 1.150.000

contact person  :
  • Putra          :  082 119 262 252/087 725 472 473/ 085 659 623 456
  • Putri           :  082 119 584 584
  • Kantor MTs :  085 316 611 711/ 085 215 066 202
  • Kantor MA   :  085 221 852 244/ 081 320 682 321 


KH Makruf Amin menuturkan terdapat empat hal yang menjadi dasar dalam cara berfikir warga NU yang menjadi ruh ketika NU berdiri dan menentukan sampai ke depan bagaimana NU yang akan datang.

Empat hal tersebut adalah yaitu pertama fikrah nahdiyyah atau cara berfikir NU, kedua NU bermazhab, ketiga NU menganut prinsip tatowwuriyah atau dinamis, keempat NU berprinsip islahiyyah atau melakukan perbaikan terus-menerus.

Hal ini disampaikan dalam diskusi Kamisan ( 14/10) NU Online yang juga dihadiri oleh Prof Dr Machasin, direktur pendidikan Islam dan Muhammad Al Fayyat, anak muda NU.
Kiai Makruf Amin menjelaskan fikrah nahdliyyah merupakan cara berfikir NU dalam memahami nash, mencari prinsip dari nash, mencari dasar hukum dari nash. Saat ini telah berkembang berbagai macam pemikiran, mulai dari radikal, tekstual, liberal dan lainnya yang semuanya menjadi tantangan bagi NU.

“Kalau aswaja menurut NU, selektif, sebab kita tidak mengikuti semua faham aswaja ini dan kita bermazhab. Saya menyebutnya tawassutiyah atau moderat. Kalau kelompok tekstualis ini tanpa penafsiran, kalau kelompok liberal kelewatan dalam penafsiran,” katanya.
Ciri kedua NU adalah bermazhab karena tanpa mazhab tidak ada frame. “Ini bidah yang paling berbahaya dalam menghancurkan Islam,” tandasnya. 

Mazhabnya pun dibatasi empat, tidak boleh lebih dari empat meskipun ada mazhab lainnya, karena yang lainseperti Sofyan Atsauri, Ibnu Uyainah, Al Auzai tidak memiliki metodologi berfikir yang jelas, hanya pendapat yang parsial.

Aspek ketiga NU adalah, tatowwuriyah atau dinamis. Artinya, kita sekalipun bermazhab, tidak kaku. Seperti diputuskan dalam Munas NU di Lampung tahun 1992 yang menetapkan cara bermazhabnya tak hanya koulan atau tekstual tetapi juga manhajan atau mengikuti metode berfikirnya para imam mazhab tersebut.

"Kebanyakan syariah keluar dari ijtihad. Ada yang sudah diselesaikan oleh ulama dahulu, ada yang belum sehingga harus berani melakukan ijtihad terhadap masalah yang belum dibahas, tetapi bisa juga masalahnya lama tetapi mengalami perubahan seperti yang terjadi pada masalah-masalah muamalah," paparnya.

Dijelaskannya, tradisi kalangan bermazhab juga begitu. Ada pendapat baru yang tidak sama dengan pendapat yang dikemukakan oleh para pendiri mazhab, tetapi meskipun berbeda keputusannya, kalau dilihat dari cara berfikirnya, tak menyalahi metodologi sehingga tetap bisa dipakai sebagai rujukan.
“Mazhab empat sudah terlalu cukup, asal manhaji, bukan kouli atau mengikuti metode berfikirnya, bukan keputusan yang sudah ada. Semua bisa diselesaikan asal kita mau berfikir. Yang penting tidak statis dalam berfikir, tetapi tidak keluar dari frame. Ini cara berfikir,” jelasnya.

Aspek keempat adalah islahiyyah atau selalu melakukan selalu perbaikan. Melakukan pebaikan itu tak cukup hanya dengan wacana diawang-awang atau menulis buku saja, tetapi harus melalui tindakan kongkrit.

“Karena itu, disamping fikrah, ada harakah atau gerakan, yang kita sebut sebagai harakah islahiyyah, akidah yang tak betul dibetulkan, demikian pula perbaikan dalam bidang ibadah, akhlak, muamalah. ekonomi, sosial, budaya, bahkan politik,” tandasnya.

Untuk masalah ekonomi, ia meminta dilakukan pemberdayaan dahulu pada masyarakat, baru pensyariahan. Tak mungkin dilakukan pensyariahan dahulu jika tak ada pemberdayaan karena masyarakat tak berdaya.

Upaya perbaikan juga harus dilakukan secara terus menerus, tak cukup hanya berjalan sebulan saja karena tak akan memiliki dampak jangka penjang. Selain itu, diharapkan mampu membuat perbaikan yang memiliki dampak tinggi. Ia mencontohkan nabi yang dalam 23 tahun mampu merubah masyarakata dari kaum jahiliyah menjadi khaira ummah karena apa yang dilakukan memiliki dampak yang tinggi.

Ketua Dewan Fatwa MUI ini menjelaskan, ia juga membidangi ekonomi syariah di MUI, disitu dilakukan sinergi antara ulama dengan pelaku ekonomi syariah dan regulator. Semua melakukan sinergi sehingga dihasilkan keputusan yang baik karena memperhitungkan semua aspek. (mkf)

Sumber : NU.OR.ID

 

Pamekasan, NU Online
Tanggal 12 Rabiul Awal menjadi tanggal bersejarah bagi seluruh umat Islam di dunia, karena saat itu nabi Muhammad SAW terlahir ke muka bumi ini sebagai nabi akhir zaman.
Kelahiran Nabi Muhammad seolah menjadi titik terang, serta memiliki makna tersendiri bagi umat Islam, karena selain sosok nabi yang memang memiliki pribadi baik, Nabi Muhammad kemudian ditunjuk menjadi penyampai informasi kebenaran atau risalah Allah kepada seluruh umat manusia dengan agama yang dibawanya, yakni Islam.
Sebagian Muslim di dunia, termasuk di Indonesia, lalu menjadikan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW ini sebagai hari yang sangat istimewa, dengan alasan karena dia merupakan sang revolusioner dan penunjuk ajaran kebenaran melalui agama yang disampaikannya.
"Anta syamsun, anta badrun, anta nurun, fauqo nuurin, artinya, engkau adalah matahari, engkau laksana rembulan, engkaulah cahaya diatas segala cahaya,". Demikian pujian Imam Ja¿far Al-Barjanzi Al-Madani, penulis kitab "Barzanji" yakni kitab yang berisi puji-pujian tentang Nabi Muhammad dan biasa dilantunkan sebagian umat Islam di Indonesia, termasuk di Pulau Madura saat acara Maulid Nabi.
Kekaguman Imam Ja'far Al-Barzanji dalam bentuk pujian ini, menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW memanglah sosok yang sempurna yang mampu menyinari umat manusia dengan wawasan keimanan dan keyakinan yang benar akan Islam.
Kelahiran Nabi Muhammad dipersepsi sebagai kelahiran peradaban dunia yang mampu mengubah tradisi yang cenderung statis menjadi lebih dinamis dan menghargai nilai-nilai kebenaran.
Kitab Barzanji sendiri merupakan kitab yang biasa dibacakan sebagian umat Islam saat menggelar perayaan Maulid Nabi. Kita ini sebenarnya merupakan syair yang berisi puji-pujian terhadap Nabi Muhammad SAW.
Syiar Islam
Menurut dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan Matnin, M.EI, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang banyak digelar umat Islam di Indonesia khususnya di Pulau Madura, sebenarnya merupakan salah satu bentur syiar Islam saja.
Maulid Nabi, kata dia, bukan merupakan jenis ibadah tertentu, sebagaimana ibadah-ibadah yang telah ditetapkan dalam rukun Islam, seperti shalat, zakat, berpuasa di bulan Ramadhan serta ibadah haji.
Oleh karenanya, jenis perayaan ini, banyak mengalami modifikasi atau perubahan, bergantung pada keinginan warga yang hendak merayakannya.
"Jadi konteksnya dalam hal peringatan Maulid Nabi Muhammad ini sangat berbeda. Makanya, kita pahami ini sebagai syiar Islam, yakni suatu upaya yang dilakukan umat Islam untuk menghidupkan suasana yang bernuansa Islami," kata Matnin.
Matnin menuturkan, dalam berbagai ketentuan tektual normatif sumber hukum Islam, baik Al-Qur’an dan Hadits, tidak ada kalimat yang menjelaskan, bahwa Nabi Muhammad merayakan kelahirannya.
Namun demikian, tidak berarti bahwa memperingati kelahiran Nabi Muhammad merupakan bentuk kegiatan terlarang di dalam Islam. "Justru menjadi baik, apabila memang tujuannya untuk syiar Islam," katanya menambahkan.
Di sebagian masyarakat di Pulau Madura sendiri, peringatan Maulid Nabi tidak hanya dilakukan dengan cara mengumandangkan puji-pujian, akan tetapi tidak sedikit diantara mereka yang mengiringi dengan jenis musik tertentu, semisal musik hadrah.
Salah satunya seperti yang digelar umat Islam di Desa Bukek, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan.
Dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di rumah warga bernama Heriyanto, justru peringatan Maulid Nabi Muhammad dengan iringan musik hadrah atau rebana.
Di kalangan umat Islam sendiri, peringatan Maulid Nabi Muhammad, memang masih terjadi perbedaan pendapat. Ada yang memperboleh, namun ada juga yang tidak memperbolehkan dengan alasan bidah, mempembarui ajaran Islam tanpa berpedoman pada Al-Qur’an dan hadist.
"Tapi senyampang tujuannya baik dan tidak berkaitan ibadah mahdah, yakni ibadah formal yang memang ditentukan langsung oleh Allah, sebenarnya tidak masalah," kata Matnin.
Status Sosial
Terlepas adanya perbedaan pendapat, dalam perkembangannya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di sebagian masyarakat Madura, kini tidak murni lagi hanya sebatas untuk kepentinya syiar Islam, akan tetapi mulai bergeser menjadi identitas dan status sosial.
Menurut Budayawan Pamekasan Iskandar, adanya pergeseran nilai-nilai itu terlihat dengan adanya upaya persaingan antar tetangga untuk merayakan Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW secara besar-besar.
"Saat ini di sebagian tetangga saya sendiri sudah ada anggapan, merasa malu jika tidak menggelar Maulid Nabi. Sehingga, apabila dia tidak punya biaya terpaksa hutang dulu, untuk menggelar muludan," katanya dia.
Fenomena adanya pergeseran nilai dari sebelumnya bahwa Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hanya sebatas syiar Islam menjadi identitas atau bahkan status sosial, dalam lima tahun terakhir ini.
Awalnya ketika itu, warga yang mampu menggelar perayaan Maulid Nabi sendiri dengan cara mengundang tetangganya datang ke rumahnya untuk bersama-sama membaca "Barzanji". Sebelumnya, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW hanya digelar di masjid, dan mushalla.
Masyarakat biasanya datang ke masjid dan Mushalla dengan membawa berbagai jenis makanan dan minuman seadanya dan di tempat itu mereka merayakan Maulid Nabi. Kemudian, makanan dan minuman yang mereka bawa dimakan secara bersama-sama.
"Kondisi yang terjadi saat ini kan tidak seperti itu lagi. Sehingga dengan merayakan Maulid Nabi dengan cara mengundang ke rumah-rumah warga itu, maka orang yang tidak mampu merasa tertekan untuk bisa merayakan di rumahnya dengan mengundang orang lain, seperti yang digelar tetangga lainnya yang mampu. Inilah yang saya maksud adanya pergeseran," terang Iskandar.
Dengan demikian, sambung Iskandar, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya sekedar syiar, namun juga menunjukkan status sosial seseorang, bahwa yang merayakan itulah yang berarti Muslim sebenarnya dan pecinta Nabi.
"Kondisi adanya pergeseran nilai ini, dari syiar Islam ke status sosial memang samar, akan tetapi sangat dirasakan oleh warga yang tidak mampu dan hidup dalam taraf ekonomi lemah," kata Iskandar menjelaskan. (antara/mukafi niam)

Alhamdulillah robbil ‘aalamiiin

Nahdalatul Ulama (NU) sebagai Ormas Islam berkecimpung dalam menyebarkan ajaran Ahlussunnah wal jamaah di tanah Indonesia telah menginjak umur 88 tahun, semoga kita sebagai kadernya selalu menegakkan Aqidah, Syariah Ahlussunnah wal jammaah, melalui berbagai kesempatan dan dari berbagai aspek kehidupan./

NU jangan hanya terlalu hadir di pedesaan dan berkembang biang di Ponpes, sekarang NU harus hadir dan mengisi seluruh lerung kehidupan, dan harus bisa menerima perubahan jaman tanpa harus meninggalkan tradisi NU itu sendiri.

NU dan warga Nahdliyiin harus kooperatif terhadap permasalahan yang ada dalam kehidupan masyarakat bawah, jangan hanya jual dalil dan jual pamor, tapi NU harus perduli terhadap kesengsaraan rakyat.

ingat NU didirikan oleh ULAMA, dari Ulama, dan untuk ULAMA. jadi segala bentuk kegiatan kita harus sejalan dengan cita-cita ulama.

wassalam.

Baitul Hikmah

{picture#https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3fOcHfpzL874U3OhFwoDrMy_XJr8jNRvq4CxHXPB1Qa1NMdgEO48S7NakmR2xFHZqjXE51WZv72knbXASHUdyc1GU8Tf5-YnwwxSjbUevOc7QyMDbP8vmmEHOw7-RsYxH6mavOf1ZepM/s600/baitul-hikmah-sedang.png} Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning Tasikmalaya {facebook#https://www.facebook.com/baitul.hikmah.99/} {twitter#https://twitter.com/yappabahik} {youtube#https://www.youtube.com/channel/#} {instagram#https://www.instagram.com/#/}
Diberdayakan oleh Blogger.